<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Tengah-tengah lebih baik</title>
	<atom:link href="http://alwasath.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://alwasath.wordpress.com</link>
	<description>Da'wah tiada henti, di setiap keadaan</description>
	<lastBuildDate>Wed, 20 Aug 2008 11:34:03 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='alwasath.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Tengah-tengah lebih baik</title>
		<link>http://alwasath.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://alwasath.wordpress.com/osd.xml" title="Tengah-tengah lebih baik" />
	<atom:link rel='hub' href='http://alwasath.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Asas-asas Dalam Kehidupan Berumahtangga</title>
		<link>http://alwasath.wordpress.com/2008/08/20/asas-asas-dalam-kehidupan-berumahtangga/</link>
		<comments>http://alwasath.wordpress.com/2008/08/20/asas-asas-dalam-kehidupan-berumahtangga/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 20 Aug 2008 11:34:03 +0000</pubDate>
		<dc:creator>warungbaca</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bina Usroh Sakinah]]></category>
		<category><![CDATA[kehidupan]]></category>
		<category><![CDATA[rumah tangga]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://alwasath.wordpress.com/?p=16</guid>
		<description><![CDATA[Oleh &#124; KH. M. Ihya’ Ulumiddin Allah Ta’ala berfirman dalam Q.S. Al-Mulk: 2 yang artinya, “Allah yang menciptakan kematian dan kehidupan untuk menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalannya…” Termasuk di antara ujian Allah atas manusia adalah kehidupan dalam berkeluarga (al hayah azzanajiah). Dalam kehidupan berkeluarga inilah Allah menguji manusia dengan yang [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=alwasath.wordpress.com&amp;blog=3433643&amp;post=16&amp;subd=alwasath&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal">Oleh | KH. M. Ihya’ Ulumiddin</p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">Allah Ta’ala berfirman dalam Q.S. Al-Mulk: 2 yang artinya, “Allah yang menciptakan kematian dan kehidupan untuk menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalannya…”</p>
<p class="MsoNormal">Termasuk di antara ujian Allah atas manusia adalah kehidupan dalam berkeluarga (al hayah azzanajiah). Dalam kehidupan berkeluarga inilah Allah menguji manusia dengan yang baik dan yang buruk sebagaimana firman Allah dalam alQuran yang artinya, “Kami akan tetap menguji kalian dengan yang baik dan yang buruk dan kepadaNya kamu semua dikembalikan.”</p>
<p class="MsoNormal">Misalnya, tahu-tahu kita mendapat jodoh dengan wajah yang kurang bagus (cantik/tampan) walaupun kita sudah berusaha memilih-milih. Itu merupakan kenyataan yang tidak bias ditolan dan harus diterima. Semuanya harus dikembalikan pada Allah Ta’ala dengan mengingat kehidupan dunia yang sangat singkat. Maka dari itu, cara mengembalikan ujian jangan memakai ukuran perasaan. Kembalikan semua urusan pada kehidupan akhirat.</p>
<p class="MsoNormal">Ketika kita masuk kubur, seberat apapun ujian yang ada di dunia akan hilang dan lupa sama sekali. Dan itu adalah ukuran seorang mukmin. Apalagi jika mengingat apa yang telah di ajarkan oleh Rasulullah Saw. Bahw orang yang masuk surga, baik laki-laki maupun perempuan semuannya berseri-seri.</p>
<p class="MsoNormal">Berseri-seri di sini, berarti semuanya ganteng dan cantik. Rasulullah juga mengatakan bagi laki-laki akan berumur rata-rata 30 tahun dan bagi perempuan rata-rata berumur 17 tahun. Jika kita di dunia ini hanya memakai standar rupa, maka bias jadi ketika muda wajahnya cantik/tampan. Tetapi, ternyata sebentar lagi sudah menjadi keriput, sejalan dengan bertambahnya usia.</p>
<p class="MsoNormal">Jika Allah sudah men-tadbir (menentukan) satu ketentuan, baik/buruknya ketentuan tersebut bukan menurut ukuran manusia, tetapi menurut ukuran Allah. Apa yang telah ditentukan Allah merupakan sesuatu yang terbaik bagi manusia. Jadi, urusan biyadihil khoir itu menjadi urusan Allah. Kalau manusia yang mengukur, mungkin bias baik bisa juga buruk, termasuk dalam masalah perkawinan/berumah tangga.</p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">Dalam berumah tangga harus dibangun dengan dua asas, yaitu al mawaddah al khoolishoh dan al mahabbah ash shoodiqoh.</p>
<p class="MsoNormal">1. Al      Mawaddah Al Khoolishoh</p>
<p class="MsoNormal">Berkaitan dengan hal ini dikatakan bahwa kecintaan ini bukan karena A dan B-nya, tetapi karena sudah menjadi tanggung jawab bersama. Bagi suami mengatakan bahwa apapun adanya, dia adalah istri saya. Begitu pula bagi sang istri yang mengatakan bahwa apapun adanya, dia adalah suami saya. Masing-masing pihak harus mau menerima segala kekurangan dan kelebihan pasangannya masing-masing.</p>
<p class="MsoNormal">2. Al      Mahabbah Ash Shoodiqoh</p>
<p class="MsoNormal">Untuk mahabbah ash shoodiqoh, ukuran kecintaan itu juga bukan karena apa-apa, tetapi semata-mata karena Allah Ta’ala. Di sampang itu, kecintaan (al Mahabbah) bisa juga terjadi karena wajah dan postur tubuh. Oleh sebab itu, harus ditambah dengan al mawaddatul khoolishoh yang murni. Al Mahabbah Ashoodiqoh itu nanti bisa kekal apabila berdasarkan agamanya.</p>
<p class="MsoNormal">Berkaitan dengan kelanggengan sebuah rumah tangga danpasangan suami istri bisa merasakan indahnya berumah tangga. Al Quran memberikan dua hal yang sangat penting, yaitu al qiwamah dan tho’atuz zaujah.</p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">A. Al      Qiwaamah</p>
<p class="MsoNormal">Yang dimaksud dengan al qiwaamah adalah sebuah pertanggungjawaban suami atas istrinya, baik bersifat dhohir (al qiwaamah adh dhoohiroh), maupun bersifat batin (al qiwaamah al baatinah),</p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">a. Al Qiwaamah adh dhoohiroh</p>
<p class="MsoNormal">Al Qiwaamah adh dhoohiroh adalah pemenuhan tanggung jawab terhadap kebutuhan rezeki yang dicari. Dalam hal ini suami tidak akan mempunyai perasaan malas dan mungkin akan mencari pekerjaan apa saja yang halal sekalipun orang lain mengatakan bahwa hal itu termasuk pekerjaan tidak layak/sesuai bagi dirinya. Di sini yang terpenting adalah terpenuhinya kebutuhan sehari-hari bagi keluarganya. Seorang sarjana pun tidak harus bekerja sesuai dengan bidang studinya. Nyatanya, Allah dalam memberi rezeki juga bukan lantaran sarjananya. Bagi seorang istri, tidak perlu malu jika di mata orang lain pekerjaan suaminya dianggap pekerjaan rendahan. Yang terpenting adalah bisa mencukupi kebutuhan keluarganya. Terkadang, memang karena adanya syahwadud dunya bisa mempengaruhi kehidupan ini. Karena itu, Islam juga mengatur<span> </span>adanya kekufuran dalam mencari pasangan hidup. Masalah kekufuran ini dikenal dalam Madzhab Syafii, sedangkan dalam Madzhab Imam Malik, tidak dikenal adanya kekufuran sebab kalau ada berarti kurang percaya pada Allah. Seorang Sayyid pun harus menikah dengan perempuan tukang sapu, mengapa tidak bisa? Tetapi, menurut Madzhab Syafii tidak begitu. Agama Islam itu adalah dienul fitrah yang juga mengatur kecenderungan manusia dan memberikan kelonggaran sesusai dengan kecenderungannya.</p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">b. Al Qiwaamah al baathinah</p>
<p class="MsoNormal">Yang namanya kecintaan itu jangan sampai pudar, jangan hanya bermanis-manis dirumah saja, ternyata selingkuh di luar rumah. Hal ini berarti dia tidak mempunyai Al Qiwaamah al baathinah. Sampai-sampai Rasulullah berpesan jagalah pandangan, jangan sampai dilepaskan pada orang lain, dan bahwa farji itu adalah satu.</p>
<p class="MsoNormal">Memang, tidaklah mungkin bagi seorang laki-laki untuk menutup matanya karena memang aktifitasnya lebih banyak di luar rumah. Yang terpenting dia bisa menahan pandangannya. Yang tidak diperbolehkan adalah memandang terus-menerus. Batasan syara’ adalah “Bagimu yang pertama, jangan sampai diteruskan.”</p>
<p class="MsoNormal">Dalam hal ini seorang istri jangan sampai mempunyai sifat cemburu yang berlebihan jika mendapati suaminya melihat pada perempuan lain. Cemburu yang berlebihan bisa mengakibatkan selalu curiga pada suami yang pada gilirannya bisa merepotkan diri sendiri. Bagi laki-laki yang mempunyai hak Al Qiwaamah al baathinah jangan sampai tergoda. Dia hendaknya bisa menahan diri dari syahwat. Ingat, Rasulullah sudah memberi pengertian bahwa farji itu satu, dari daerah mana pun asal perempuan itu, apakah dia cantik atau pun jelek. Hal ini dimaksudka untuk mengantisipasi apakah al Qiwaamahal bathinahnya shodiqoh (jujur) atau tidak. Kalau sudah shodiqoh, Insya Allah tidak akan lari kemana-mana. Tidak bertanggungjawabnya laki-laki secara bathin akan mempengaruhi pertanggungjawabnya secara dhohir. Suami yang sudah tertarik pada orang lain (yang bukan istrinya), maka otomatis tanggung jawab secara dhohir akan berkurang. Lain halnya jika ada sesuatu yang dimungkinkan seorang suami harusmenikah lagi (berpoligami), yang terpenting sudah menjadi istrinya.</p>
<p class="MsoNormal">Jika terjadi penyelewengan al Qiwaamah al bathinah terhadap orang lain yang bukan istrinya, hal itu bisa membahayakan suami karena sudah mentasyarufkan sesuatu pada orang yang bukan istrinya, dan mengurangi/meninggalkan hak suami seperti biasanya. Semuanya itu akan mengakibatkan terjadinya “kiamat” dalam rumah tangga. Perilaku suami bisa jadi akan berubah, yang biasanya lemah lembut terhadap suami berubah menjadi kasar</p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">B.Thoo’ah      az Zaujah</p>
<p class="MsoNormal">Adapun asas yang harus dibangun oleh isri adalah ketaatan pada suami. Dalam menjalankan ketaatan tersebut, istri harus sabar. Rahasianya adalah kalau sudah taat terus, sekeras-kerasnya suami maka luluh jika melihat istrinya yang taat kepadanya. Ketaatan pada suami itu bisa berwujud tidak pernah menentang, mengomeli, dan menuntut apa-apa pada suami. Bila diberi diterima, tidak diberi juga tidak akan menuntut sehingga kata suami, istriku taat seklai. Malah suatu saat, sang sumai akan menawarkan diri untuk memenuhi permintaan istri.</p>
<p class="MsoNormal">Seorang isti yang taat pada suaminya mempunyai predikat yang agung, yaitu istri yang qoonitah dan haafidhoh.</p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">Qoonitah</p>
<p class="MsoNormal">Istri yang bersifat qoonitah tidak akan mampu melunturkan kecintaan suami pada istri walaupun istri mempunyai kekurangan/sifat yang kurang baik. Allah menyifati istri yang sholihah dengan sebutan qoonitah. Qoonitah bisa berarti: thoo’iah (taat), saakitah (diam), daa’iyah (berdoa)</p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">1. Thoo’ah (taat)</p>
<p class="MsoNormal"><span> </span>Masalah ketaatan istri menjadi standart penting. Hal ini bisa dimaklumi untuk mengimbangi suami yang sudah bersusah payah mencari rizekidan tidak termasukyang dikatakan kufur nikmat akan adanya suami yang bertanggung jawab.</p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">2. Saakitah (diam)</p>
<p class="MsoNormal"><span> </span>Adapun saakitah itu penting. Suami yang sudah bersusah payah dalam bekerja bisa saja menjadi sebab muncul kemarahan. Jika suatau saat suami terlambat pulang kerja,<span> </span>padahal sudah jelas qiwaamahnya, jangan sampai istri langsung bertanya, “Mengapa pulang terlambat?” Hal ini bisa menyebabkan suami menjadi marah. Dalam ini sebaiknya istri diam. Kalau perlu jangan bertanya apa-apa. Kemana pun suami mencari rezeki, yang penting dia sholeh dan jelas. Maka kalau perempuan itu saakitah, Insya Allah akan selamat, terutama bila kepada suaminya.</p>
<p class="MsoNormal">3. Daa’yah      (berdoa)</p>
<p class="MsoNormal">Dalam hidup ini antara suami dan istri hendaklah saling berbagi. Ketika suami sibuk bekerja di luar, jangan lupa istri di rumah selalu berdoa agar suaminya mendapat rezeki yang barokah. Jadi, harus ada dukungan yang besar dari istri untuk suami.</p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">Haafidhoh (Menjaga)</p>
<p class="MsoNormal">1. Menjaga      Diri</p>
<p class="MsoNormal">Istri yang bisa menjaga diri termasuk perbuatan yang terpuji sehingga tidak akan terjadi serong dan perselingkuhan. Suami yang telah berbuat baik harus dibalas pula dengan kebaikan. Suami yang sibuk di luar juga tidak boleh berbuat serong atau selingkuh. Dia harus tetap menjaga qiwaamahnya.</p>
<p class="MsoNormal">2. Menjaga      harta suami</p>
<p class="MsoNormal">Istri ikut membantu menjaga harta suami, jangan sampai malah menggunakan uang di luar kepentingan dan boros dalam membelanjakannya. Jadi, istri bisa mengimbangi suami yang sudah bersusah payah mencari rezeki. Secara umum, Rasulullah Saw. Telah memberikan gambaran umum bahwa suami istri harus mencukupi kebutuhannya terlebih dahulu, setelah itu baru berinfaq. Di sini menurut ukuran umum, bukan maqom. Jadi, jangan sampai memberi peluang untuk menghabiskan uang.[]</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/alwasath.wordpress.com/16/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/alwasath.wordpress.com/16/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/alwasath.wordpress.com/16/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/alwasath.wordpress.com/16/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/alwasath.wordpress.com/16/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/alwasath.wordpress.com/16/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/alwasath.wordpress.com/16/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/alwasath.wordpress.com/16/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/alwasath.wordpress.com/16/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/alwasath.wordpress.com/16/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/alwasath.wordpress.com/16/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/alwasath.wordpress.com/16/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/alwasath.wordpress.com/16/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/alwasath.wordpress.com/16/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/alwasath.wordpress.com/16/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/alwasath.wordpress.com/16/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=alwasath.wordpress.com&amp;blog=3433643&amp;post=16&amp;subd=alwasath&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://alwasath.wordpress.com/2008/08/20/asas-asas-dalam-kehidupan-berumahtangga/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/b2e29bd9c4230c4876b996a195958bdf?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Abu Faim</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Islam, Bagaimana Anda Memahami?</title>
		<link>http://alwasath.wordpress.com/2008/06/11/islam-bagaimana-anda-memahami-3/</link>
		<comments>http://alwasath.wordpress.com/2008/06/11/islam-bagaimana-anda-memahami-3/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 11 Jun 2008 23:35:34 +0000</pubDate>
		<dc:creator>warungbaca</dc:creator>
				<category><![CDATA[Aqidah]]></category>
		<category><![CDATA[gharizah]]></category>
		<category><![CDATA[ghorizah]]></category>
		<category><![CDATA[Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Manusia]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://alwasath.wordpress.com/?p=14</guid>
		<description><![CDATA[BAB I Potensi Kehidupan Pada Diri Manusia Di dalam diri manusia terdapat potensi kehidupan yang mendorong manusia untuk mengerjakan berbagai aktifitas, dan potensi yang butuh untuk dipenuhi (isyba’). Potensi kehidupan ini ada dua bentuk, yaitu: Sesuatu yang harus dipenuhi secara pasti, bila tidak dipenuhi dapat menjadikan manusia mati. Seperti beberapa kebutuhan anggota badan (makan, minum, [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=alwasath.wordpress.com&amp;blog=3433643&amp;post=14&amp;subd=alwasath&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal"><strong>BAB I</strong></p>
<p class="MsoNormal"><strong>Potensi Kehidupan Pada Diri Manusia</strong></p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">Di dalam diri manusia terdapat potensi kehidupan yang mendorong manusia untuk mengerjakan berbagai aktifitas, dan potensi yang butuh untuk dipenuhi (isyba’).</p>
<p class="MsoNormal">Potensi kehidupan ini ada dua bentuk, yaitu:</p>
<p class="MsoNormal">
<ol style="margin-top:0;" type="1">
<li class="MsoNormal">Sesuatu      yang harus dipenuhi secara pasti, bila tidak dipenuhi dapat menjadikan      manusia mati. Seperti beberapa kebutuhan anggota badan (makan, minum,      mendatangi hajjah atau buang air besar dan kecil). Pendorongnya dari dalam      (otomatis).</li>
<li class="MsoNormal">Sesuatu      yang menuntut untuk dipenuhi, tetapi apabila tidak terpenuhi tidak      menjadikan manusia mati, hanya saja ia akan resah, hingga kebutuhan      tersebut terpenuhi. Inilah yang disebut dengan naluri (ghorizah), yang di      antaranya adalah naluri terhadap lawan jenis (ghorizahtun nau’) dan ada      naluri beragama (ghorizatut tadayyun). Sedang pendorongnya tidak bersifat      otomatis, maka harus ada pembangkit. Adapun hal-hal yang membangkitkan      pemenuhan (isyba’) adalah:
<ol style="margin-top:0;" type="a">
<li class="MsoNormal">Pemikiran-pemikiran       terhadap sesuatu yang membangkitkan perasaan.</li>
<li class="MsoNormal">Kenyataan       yang dapat dirasakan oleh panca indera. Seperti contoh: Seungguhnya       ghorizatun nau’ itu pembangkitnya adalah berfikir tentang wanita-wanita       cantik atau sesuatu yang berhubungan dengan seksualitas (contoh:       film-film porno, gambar porno, iklan, majalah-majalah porno, dsb), atau       dengan melihat langsung kepada wanita cantik (contoh: tari perut       (striptease), pertunjukkan adegan seks, senam dengan pakaian ketat, dsb).       Ghorizatut Tadayyun akan dibangkitkan oleh memikirkan ayat-ayat Allah       Swt., hari kiamat atau yang ada hubungan dengannya (seperti: maut/mati,       hidup di alam kubur, disiksa atau mendapat kenikmatan, bangkit dari       kubur, hasyr, lewat siroth, penempatan di surga atau di neraka). Atau       pengamatan kepada keindahan ciptaan Allah Swt. yang ada di langit dan di       bumi, atau sesuatu yang berhubungan dengannya. Jika rangsangan-rangsangan       (mutsir) tersebut tidak terwujud, maka ghorizah pun tidak akan muncul.       Alangkah indahnya jika ghorizah tadayyun memiliki pembangkit yang kuat.       Tetapi realitanya seperti yang anda saksikan, justru sebaliknya.</li>
</ol>
</li>
</ol>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center">***</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/alwasath.wordpress.com/14/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/alwasath.wordpress.com/14/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/alwasath.wordpress.com/14/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/alwasath.wordpress.com/14/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/alwasath.wordpress.com/14/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/alwasath.wordpress.com/14/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/alwasath.wordpress.com/14/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/alwasath.wordpress.com/14/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/alwasath.wordpress.com/14/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/alwasath.wordpress.com/14/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/alwasath.wordpress.com/14/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/alwasath.wordpress.com/14/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/alwasath.wordpress.com/14/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/alwasath.wordpress.com/14/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/alwasath.wordpress.com/14/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/alwasath.wordpress.com/14/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=alwasath.wordpress.com&amp;blog=3433643&amp;post=14&amp;subd=alwasath&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://alwasath.wordpress.com/2008/06/11/islam-bagaimana-anda-memahami-3/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/b2e29bd9c4230c4876b996a195958bdf?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Abu Faim</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Islam, Bagaimana Anda Memahami?</title>
		<link>http://alwasath.wordpress.com/2008/06/11/islam-bagaimana-anda-memahami-2/</link>
		<comments>http://alwasath.wordpress.com/2008/06/11/islam-bagaimana-anda-memahami-2/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 11 Jun 2008 23:31:45 +0000</pubDate>
		<dc:creator>warungbaca</dc:creator>
				<category><![CDATA[Aqidah]]></category>
		<category><![CDATA[Islam]]></category>
		<category><![CDATA[mabadi'ul wa'yi]]></category>
		<category><![CDATA[muqaddimah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://alwasath.wordpress.com/?p=13</guid>
		<description><![CDATA[Muqaddimah Segala puji bagi Allah Subhana wata’ala yang telah menunjuki kita dengan jalan kebenaran, dan kita sekali-kali tidak akan mendapat petunjuk, jika Allah Subhanawata’ala tidak memberinya. Saya bersaksi bahwa sesungguhnya tidak ada Tuhan yang patut disembah selain Allah, tidak ada sekutu bagi-Nya dan saya bersaksi bahwa sesungguhnya Nabi Muhammad Sholallohu ‘alaihi wassalam adalah hamba dan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=alwasath.wordpress.com&amp;blog=3433643&amp;post=13&amp;subd=alwasath&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal"><strong>Muqaddimah</strong></p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">Segala puji bagi Allah Subhana wata’ala yang telah menunjuki kita dengan jalan kebenaran, dan kita sekali-kali tidak akan mendapat petunjuk, jika Allah Subhanawata’ala tidak memberinya. Saya bersaksi bahwa sesungguhnya tidak ada Tuhan yang patut disembah selain Allah, tidak ada sekutu bagi-Nya dan saya bersaksi bahwa sesungguhnya Nabi Muhammad Sholallohu ‘alaihi wassalam adalah hamba dan rasul-Nya.</p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">Ya Allah limpahkan shalawat dan salam pada Nabi Muhammad Sholallohu ‘alaihi wassalam dan keluarganya, sebagaimana Engkau telah melimpahkan shalawat dan salam pada Nabi Ibrahim serta keluarganya. Dan berikanlah berkah pada Nabi Muhammad Sholallohu ‘alaihi wassalam dan keluarganya sebagaimana Engkau telah memberikan berkah pada Nabi Ibrahim serta keluarganya. Sesungguhnya Engkau Maha Terpuji dan Maha Agung.</p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">Kami persembahkan kitab kecil ini bagi orang-orang yang berkehendak membekali diri dengan aqidah yang terlepas dari pendapat ahli kalam yang berbelit-belit dan perbantahan ahli filsafat.</p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">Kitab ini merupakan pilihan dan ringkasan dari kitab Al Fikrul Islamy dengan autran penulis tanpa mengubah isinya. Di beberapa bagian kami tambah, namun dengan memperlihatkan amanah ilmu.</p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">Mengembalikan aqidah pada metode AlQuran adalah wajib di zaman ini. Sebab sedikit orang yang memperhatikan atau mempelajari aqidah dengan mengarahkan pandangan (mengacu) pada ayat-ayat Allah Subhanawata’ala melalui penginderaan dengan tanpa berbelit-belit. Dengan metode AlQuran seorang mukmin dapat memahami aqidahnya secara jelas tanpa metode mantiq dan falsafah. Sebagaimana sahabat Bilal r.a. yang memiliki kesadaran dengan metode AlQuran bukan dengan metode mantiq dan falsafah.</p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">Kami pilihkan judul tertentu yang mudah dipahami oleh pelajar, santri dan mahasiswa sebagai dasar pemikiran untuk meningkatkan keimanan, bukan sekedar sebagai pengetahuan belaka. Kami namakan kitab ini MABADI’UL WA’YI dengan iringan permohonan kepada Allah agar memberi manfaat kepada kita secara sempurna, karena hanya pada Allah kita mohon pertolongan dan taufiq. Dan hanya Allah yang mencukupi kita dan tempat bersandar.</p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">Surabaya, 12 Rabi’ul Awal 1412 H</p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">Penyusun</p>
<p class="MsoNormal">K.H. Muhammad Ihya’ Ulumiddin</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/alwasath.wordpress.com/13/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/alwasath.wordpress.com/13/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/alwasath.wordpress.com/13/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/alwasath.wordpress.com/13/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/alwasath.wordpress.com/13/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/alwasath.wordpress.com/13/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/alwasath.wordpress.com/13/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/alwasath.wordpress.com/13/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/alwasath.wordpress.com/13/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/alwasath.wordpress.com/13/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/alwasath.wordpress.com/13/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/alwasath.wordpress.com/13/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/alwasath.wordpress.com/13/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/alwasath.wordpress.com/13/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/alwasath.wordpress.com/13/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/alwasath.wordpress.com/13/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=alwasath.wordpress.com&amp;blog=3433643&amp;post=13&amp;subd=alwasath&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://alwasath.wordpress.com/2008/06/11/islam-bagaimana-anda-memahami-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/b2e29bd9c4230c4876b996a195958bdf?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Abu Faim</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Islam, Bagaimana Anda Memahami?</title>
		<link>http://alwasath.wordpress.com/2008/06/11/islam-bagaimana-anda-memahami/</link>
		<comments>http://alwasath.wordpress.com/2008/06/11/islam-bagaimana-anda-memahami/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 11 Jun 2008 23:30:37 +0000</pubDate>
		<dc:creator>warungbaca</dc:creator>
				<category><![CDATA[Aqidah]]></category>
		<category><![CDATA[Islam]]></category>
		<category><![CDATA[mabadi'ul wa'yi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://alwasath.wordpress.com/?p=12</guid>
		<description><![CDATA[Judul Asli: Mabadi’ul Wa’yi Oleh: K.H. Muhammad Ihya’ Ulumiddin Kata Pengantar Bismillahhirahmanirrahim Segala puji syukur kita panjatkan ke hadirat Allah Subhanawata’ala. Rabbul Izzati. Shalawat dan salam semoga tetap terlimpah kepada junjungan kita Nabi Muhammad Sholallohu ‘alaihi wassalam, selaku pemimpin para Nabi dan orang-orang bertakwa, begitu pula kepada keluarganya, sahabat-sahabatnya dan orang-orang yang berdakwah dan mengikuti [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=alwasath.wordpress.com&amp;blog=3433643&amp;post=12&amp;subd=alwasath&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal">Judul Asli: Mabadi’ul Wa’yi</p>
<p class="MsoNormal">Oleh: K.H. Muhammad Ihya’ Ulumiddin</p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">Kata Pengantar</p>
<p class="MsoNormal"><em>Bismillahhirahmanirrahim</em></p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">Segala puji syukur kita panjatkan ke hadirat Allah Subhanawata’ala. Rabbul Izzati. Shalawat dan salam semoga tetap terlimpah kepada junjungan kita Nabi Muhammad Sholallohu ‘alaihi wassalam, selaku pemimpin para Nabi dan orang-orang bertakwa, begitu pula kepada keluarganya, sahabat-sahabatnya dan orang-orang yang berdakwah dan mengikuti apa yang dicontohkan oleh Nabi dan para sahabatnya,</p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">Sebagai upaya kita menambah dan memperdalam pengetahuan tentang Islam serta untuk memperkokoh keimanan kita, maka kami mencoba menghadirkan ke hadapan kita semua sebuah buku yang membahas tentang masalah Aqidah menurut metode AlQuran seperti yang ditimpuh oleh Nabi dan para sahabatnya.</p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">Buku yang disusun oleh Ustadz Ihya’ Ulumiddin ini merupakan bunga rampai pemikiran-pemikiran Islam yang mudah dicerna dan dipahami, sehingga dengan demikian diharapkan para pembaca dapat memahami masalah Aqidah Islam dengan mudah dan tidak berbeli-belit, yang akhirnya akan dapat menghasilkan Aqidah yang kokoh dan kuat tertanam dalam qolbu.</p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">Kami ucapkan jazakumullah khoiron katsiiro kepada semua pihak yang membantu proses penerbitan buku ini, dan kami berharap dan memohon kepada Allah Ta’ala semoga buku ini memberi manfaat bagi kita semua. Hanya pada Allah kita memohon dan hanya pada Allah kita bersandar.</p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">Ramadhan 1415 H</p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">Yayasan Al Haromain Surabaya</p>
<p class="MsoNormal">
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/alwasath.wordpress.com/12/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/alwasath.wordpress.com/12/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/alwasath.wordpress.com/12/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/alwasath.wordpress.com/12/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/alwasath.wordpress.com/12/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/alwasath.wordpress.com/12/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/alwasath.wordpress.com/12/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/alwasath.wordpress.com/12/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/alwasath.wordpress.com/12/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/alwasath.wordpress.com/12/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/alwasath.wordpress.com/12/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/alwasath.wordpress.com/12/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/alwasath.wordpress.com/12/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/alwasath.wordpress.com/12/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/alwasath.wordpress.com/12/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/alwasath.wordpress.com/12/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=alwasath.wordpress.com&amp;blog=3433643&amp;post=12&amp;subd=alwasath&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://alwasath.wordpress.com/2008/06/11/islam-bagaimana-anda-memahami/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/b2e29bd9c4230c4876b996a195958bdf?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Abu Faim</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Syara’: Pagar Keselamatan Wanita (part-2)</title>
		<link>http://alwasath.wordpress.com/2008/05/28/syara%e2%80%99-pagar-keselamatan-wanita-part-2/</link>
		<comments>http://alwasath.wordpress.com/2008/05/28/syara%e2%80%99-pagar-keselamatan-wanita-part-2/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 28 May 2008 00:59:06 +0000</pubDate>
		<dc:creator>warungbaca</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ummahat]]></category>
		<category><![CDATA[feminisme]]></category>
		<category><![CDATA[syara]]></category>
		<category><![CDATA[Wanita]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://alwasath.wordpress.com/?p=11</guid>
		<description><![CDATA[Dahulu (sebelum Islam berkuasa), bila istri ditinggal mati suaminya, maka selanjutnya yang berhak mengawini adalah anak kandungnya sendiri. Wanita tidak punya hal milik atas harta maupun pakaiannya, dia hanyalah pelayan bagi laki-laki. Wanita tidak mendapatkan bagian harta warisan dan kebiasaan jahiliyyah memaksa putri-putrinya untuk melacur. Adat-adat demikian lantas dikikis habis oleh Islam. Saat itu para [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=alwasath.wordpress.com&amp;blog=3433643&amp;post=11&amp;subd=alwasath&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Dahulu (sebelum Islam berkuasa), bila istri ditinggal mati suaminya, maka selanjutnya yang berhak mengawini adalah anak kandungnya sendiri. Wanita tidak punya hal milik atas harta maupun pakaiannya, dia hanyalah pelayan bagi laki-laki. Wanita tidak mendapatkan bagian harta warisan dan kebiasaan jahiliyyah memaksa putri-putrinya untuk melacur. Adat-adat demikian lantas dikikis habis oleh Islam.</p>
<p class="MsoNormal">Saat itu para wanita merasakan kehebatan Islam dalam mengangkat hak-hak kewanitaannya sehingga mereka bersikap ingin memasuki gerbang keselamatannya yang ditawarkan oleh Islam, mereka ingin menikmati kebahagian system yang melindungi kehidupan wanita yang tunduk pada syariat Islam dengan batas-batas pergaulan dan pengembangan diri yang sangat kentara disbanding dengan kehidupan sebelumnya.</p>
<p class="MsoNormal">Padahal wanita sebelumnya dianggap makhluk yang memalukan. Anggapan ini dibuktikan sendiri oleh Umar bin Khattab r.a. tokoh ini dari kalangan elit bangsa Quraisy yang mengubur gadis kecilnya dalam keadaan hidup-hidup. Latar belakang peristiwa penguburan tersebut adalah rasa malu yang dalam memiliki seorang anak wanita. Wanita tidak ada hak untuk mengembangkan dirinya menyamai laki-laki apalagi merebutnya. Maka tempat wanita di lubang kubur. Penguburan gadis kecil juga disebabkan oleh sikap mempertahankan kehormatan. Keluarga yang memiliki generasi wanita akan turun derajat kehormatannya. Q.S. an-Nahl: 58-59 menggambarkan sebagai berikut:</p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><em><span style="font-size:10pt;">58. Dan apabila seseorang dari mereka diberi kabar dengan (kelahiran) anak perempuan, hitamlah (merah padamlah) mukanya, dan Dia sangat marah.</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><em><span style="font-size:10pt;">59. Ia Menyembunyikan dirinya dari orang banyak, disebabkan buruknya berita yang disampaikan kepadanya. Apakah Dia akan memeliharanya dengan menanggung kehinaan ataukah akan menguburkannya ke dalam tanah (hidup-hidup) ?. ketahuilah, Alangkah buruknya apa yang mereka tetapkan itu.</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><em><span style="font-size:10pt;"> </span></em></p>
<p class="MsoNormal">Selanjutnya di saata para wanita muslimah, menikmati kebahagiannya hidup dalam naungan system syariat Islam, muncullah gerakkan feminisme yang menuntut hak sama antara laki-laki dan wanita dalam berbagai bidang profesi. Gerakan ini muncul dari dunia barat (baca: orang-orang kafir) bukan dari dunia Islam. Gerakan ini muncul dikarenakan dunia Barat saat itu memandang waniata tidak ubahnya seperti pandangan sebelum kejayaan Islam, wanita diletakkan dalam posisi yang tidak menentu, bahkan hanya dijadikan obyek kaum laki-laki. Wajarlah bila para wanita Barat menuntut hak-hak kewanitaannya agar tidak selalu dilecehkan. Sehingga wanita Barat diakui keberadaannya, sebagaimana yang terjadi dalam dunia muslimah.</p>
<p class="MsoNormal">Namun gerakan penuntutan hak-hak kewanitaan yang dilakukan Barat sangat berbeda dengan gerakan Sistem Islam dalam mengangkat kehormatan wanita. Wanita Barat menuntut hak-haknya didasari oleh paham liberalisme (kebebasan/al-hurruyah). Bebas dalam segala macam perikehidupannya. Sehingga yang dihasilkan oleh perjuangan tersebut adalah wanita-wanita dapat menikmati kebebasan di luar rumah mereka menuju teater dan bioskop, tarian dan dansa, nyanyian dan musik, kontes-kontes kecantikan, minuman keras bahkan pada tingkat prostitusi (free sex). Inilah sebenarnya kebebasan yang ingin dicapai setelah perjuangan feminisme diakui oleh kaum laki-laki.</p>
<p class="MsoNormal">Dampak yang sangat dirasakan di dunia muslimah adalah ketika muslimah tidak mampu melihat ke belakang hakekat perjuangan mereka sehingga di antara muslimah banyak yang terbalik meninggalkan kebahagian dalam system naungan Islam menuju kebebasan di luar pagar keselamatan syara’. Mereka para wanita muslimah merasa iri dengan kebebasan wanita-wanita Barat dalam menikmati fasilitas kehidupan ini sehingga mereka dengan tega meninggalkan pagar keselamatan syara’ dengan menanggalkan jilbabnya, bercampur baur dalam pergaulan bebas laki-laki wanita, bekerja meninggalkan rumah. Yang dikejar oleh muslimah tersebut adalah kebahagian yang fatamorgana. Kebahagian yang tidak pernah dapat dicapai oleh para pejuang dan penganjuranya sendiri kaum feminisme.</p>
<p class="MsoNormal">Secara politis, program-program kebebasan wanita yang dibalut dalam bentuk karir dengan berbagai macam media bertujuan untuk melemahkan sendi-sendi kehidupan wanita muslimah. Karena itulah serangan-serangan mereka secara gencar ditujukan kepada dunia muslimah. Akhirnya kaum muslimah terseret dalam program-program mereka bahkan sekarang sebagai pengagum dan pelaku gerakan feminisme.(bersambung)</p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/alwasath.wordpress.com/11/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/alwasath.wordpress.com/11/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/alwasath.wordpress.com/11/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/alwasath.wordpress.com/11/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/alwasath.wordpress.com/11/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/alwasath.wordpress.com/11/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/alwasath.wordpress.com/11/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/alwasath.wordpress.com/11/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/alwasath.wordpress.com/11/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/alwasath.wordpress.com/11/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/alwasath.wordpress.com/11/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/alwasath.wordpress.com/11/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/alwasath.wordpress.com/11/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/alwasath.wordpress.com/11/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/alwasath.wordpress.com/11/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/alwasath.wordpress.com/11/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=alwasath.wordpress.com&amp;blog=3433643&amp;post=11&amp;subd=alwasath&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://alwasath.wordpress.com/2008/05/28/syara%e2%80%99-pagar-keselamatan-wanita-part-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/b2e29bd9c4230c4876b996a195958bdf?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Abu Faim</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Manusia Tercipta Dalam Kelemahan</title>
		<link>http://alwasath.wordpress.com/2008/05/05/manusia-tercipta-dalam-kelemahan/</link>
		<comments>http://alwasath.wordpress.com/2008/05/05/manusia-tercipta-dalam-kelemahan/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 05 May 2008 07:22:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>warungbaca</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tausiyah]]></category>
		<category><![CDATA[Manusia]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://alwasath.wordpress.com/?p=10</guid>
		<description><![CDATA[oleh &#124; KH. M. Ihya&#8217; Ulumiddin Allah Swt. berfirman: &#8220;dan manusia diciptakan dalam keadaan lemah&#8221; Q.S. An Nisa&#8217;: 28 Dalam ayat ini terkandung banyak hikmah yang senantiasa mampu dipahami oleh seorang muslim yang terbina. Hikmah-hikmah itu adalah: 1. Arahan agar bersikap meringankan (takhfif) dan menampakkan keistimewaan agama ini yang berupa tidak adanya kesusahan (adamul haraj) [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=alwasath.wordpress.com&amp;blog=3433643&amp;post=10&amp;subd=alwasath&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>oleh | KH. M. Ihya&#8217; Ulumiddin</p>
<p>Allah Swt. berfirman:<br />
&#8220;<em>dan manusia diciptakan dalam keadaan lemah&#8221;</em> <strong>Q.S. An Nisa&#8217;: 28</strong></p>
<p>Dalam ayat ini terkandung banyak hikmah yang senantiasa mampu dipahami oleh seorang muslim yang terbina. Hikmah-hikmah itu adalah:</p>
<p>1. Arahan agar bersikap meringankan (takhfif) dan menampakkan keistimewaan agama ini yang berupa tidak adanya kesusahan (adamul haraj) di dalamnya. Jadi kemudahan merupakan salah satu pondasi dan prinsip dasar syariat Islam di mana dari sanalah kemudian muncul aneka ragam keringanan-keringanan. Seperti inilah yang selalu diperintahkan Rasulullah Saw. sendiri kepada para duta dakwah yang Beliau kirim dalam misi penyebaran agama. Beliau berpesan kepada Muadz dan Abu Musa, &#8220;Bersikaplah memudahkan dan jangan kalian berdua bertindak menyulitkan.&#8221; Beliau juga berpesan, &#8220;Sesungguhnya kalian hanya diutus untuk memberikan kabar gembira, bukan membuat orang lari.&#8221;</p>
<p>2. Manusia itu lemah dan karena kelemahan ini ia lemah tidak berdaya melawan keinginannya sehingga ia tidak sabar dari meninggalkan keinginan-keinginan. Rasulullah Saw. bersabda, &#8220;Kalian tidak sempurna iman sehingga keinginannya (hobinya) adalah mengikuti apa yang aku bawa.&#8221; H.R. Dailami dalam Musnad al Firdaus. Beliau Saw. juga bersabda, &#8220;Jagalah diri kalian, niscaya para istri kalian juga akan menjaga diri. Berbaktilah kepada orang tua kalian niscaya anak-anak kalian akan berbakti kepada kalian.&#8221; H.R. Thabarani.</p>
<p>Abu Hurairah r.a. berdoa, &#8220;Ya Allah, saya memohon perlindunganMu dari berbuat zina dan mencuri.&#8221; karena inilah ditanyakan kepadanya, &#8220;Usia sudah tua sementara anda adalah sahabat Rasulullah Saw., apakah anda khawatir akan berbuat zina dan mencuri?&#8221; Abu Hurairah r.a. menjawab, &#8220;Bagaimana diriku merasa aman sedangkan iblis masih hidup?&#8221;</p>
<p>3.  Habib Abdullah bin Alawi al Haddad berkata, &#8220;Manusia itu lemah dan karena kelemahan ini ia lebih banyak berpegang pada prasangkaan-prasangkaan (Tawahhumat) daripada bersandar kepada keyakinan-keyakinan (Yaqiiniyyat). Dikatakan dalam sebuah hikmah, &#8220;Hendaknya kepercayaan orang beriman lebih kuat kepada Allah daripada kepada apa yang ada dalam genggaman tangannya.&#8221;</p>
<p>4. Manusia itu lemah dan karena kelemahan inilah satu sama lain saling membutuhkan pertolongan. Apalagi pada kenyataannya tidak ada seorangpun kecuali pada satu sisi ia menggunakan orang lain sementara di sisi lain ia dipergunakan oleh orang lain seperti ditegaskan Allah dalam firmanNya, &#8220;kami telah menentukan antara mereka penghidupan mereka dalam kehidupan dunia, dan Kami telah meninggikan sebagian mereka atas sebagian lain beberapa derajat, agar sebagian mereka dapat mempergunakan sebagian lain.&#8221; Q.S. Az Zukhruf: 32. Dengan demikian satu dengan yang lain menjadi sarana berjalannya kehidupan. Orang ini dengan hartanya, sedang yang lain dengan pekerjaannya sehingga sempurnalah putaran roda kehidupan. Jadi bukan karena kesempurnaan yang dimiliki orang kaya (al Muusi&#8217;) dan bukan pula karena kekurangan yang ada pada orang yang pas-pasan (al Muqtir). Rasulullah Saw. bersabda, &#8220;Pemimpin kaum adalah pelayan mereka.&#8221; H.R. al Khathib. Dan dikatakan pula, &#8220;Manusia, sebagian dari mereka adalah milik sebagian yang lain meski mereka tidak merasa bahwa sebenarnya mereka adalah para pelayan.&#8221;<br />
Karena itu semua, dalam firmanNya, Allah memberikan peringatan/tahdzir kepada kita agar tidak tertipu diri sendiri serta supaya mengakui kelemahan dan ketidakberdayaan. Dia berfirman, &#8220;Dan hanya kepunyaan Allah-lah apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi supaya Dia memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat jahat terhadap apa yang mereka kerjakan dan memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik dengan pahala yang lebih baik, (yaitu) orang-orang yang menjauhi dosa-dosa besar dan perbuatan keji yang selain dari kesalahan-kesalahan kecil. Sesungguhnya Tuhanmu maha luas ampunanNya. Dan Dia lebih Mengetahui ketika Dia Menciptakan kamu dari tanah dan ketika kamu kamu masih janin dalam perut ibumu; maka janganlah kamu mengatakan dirimu suci. Dialah yang paling mengetahui tentang orang yang bertakwa&#8221; Q.S. An Najm: 31-32. &#8220;&#8230;. dan andai tidak ada anugerah Allah atas kalian, niscaya tidak seorangpun dari kalian yang bersih (dari perbuatan keji dan munkar) selamanya, tetapi Allah membersihkan siapa yang dikehendakiNya. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.&#8221; Q.S. An Nuur: 21.</p>
<p>Wallahi yatawaliiljamii&#8217;a biru&#8217;aayatih.</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/alwasath.wordpress.com/10/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/alwasath.wordpress.com/10/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/alwasath.wordpress.com/10/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/alwasath.wordpress.com/10/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/alwasath.wordpress.com/10/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/alwasath.wordpress.com/10/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/alwasath.wordpress.com/10/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/alwasath.wordpress.com/10/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/alwasath.wordpress.com/10/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/alwasath.wordpress.com/10/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/alwasath.wordpress.com/10/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/alwasath.wordpress.com/10/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/alwasath.wordpress.com/10/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/alwasath.wordpress.com/10/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/alwasath.wordpress.com/10/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/alwasath.wordpress.com/10/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=alwasath.wordpress.com&amp;blog=3433643&amp;post=10&amp;subd=alwasath&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://alwasath.wordpress.com/2008/05/05/manusia-tercipta-dalam-kelemahan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/b2e29bd9c4230c4876b996a195958bdf?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Abu Faim</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Trend Golden Facial</title>
		<link>http://alwasath.wordpress.com/2008/04/30/trend-golden-facial/</link>
		<comments>http://alwasath.wordpress.com/2008/04/30/trend-golden-facial/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 30 Apr 2008 03:11:17 +0000</pubDate>
		<dc:creator>warungbaca</dc:creator>
				<category><![CDATA[Fasalu]]></category>
		<category><![CDATA[Facial]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://alwasath.wordpress.com/?p=9</guid>
		<description><![CDATA[Pertanyaan: Dewasa ini mulai muncul trend dan berkembang model kecantikan dengan memanfaatkan emas 24 karat sebagai salah satu bahan campuran untuk cuci wajah ( Facial ) serta masker. Bagaimana pandangan Islam terkait fenomena tersebut?. Ahmad Muflih UB, Pemerhati Kecantikan dari Kediri Jawaban: Emas dalam bahasa latin disebut dengan aurum / Au, yang berarti senja bersinar. [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=alwasath.wordpress.com&amp;blog=3433643&amp;post=9&amp;subd=alwasath&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Pertanyaan:</p>
<p>Dewasa ini mulai muncul trend dan berkembang model kecantikan dengan memanfaatkan emas 24 karat sebagai salah satu bahan campuran untuk cuci wajah ( Facial ) serta masker. Bagaimana pandangan Islam terkait fenomena tersebut?.</p>
<p>Ahmad Muflih UB,<br />
Pemerhati Kecantikan dari Kediri</p>
<p>Jawaban: </p>
<p>Emas dalam bahasa latin disebut dengan aurum / Au, yang berarti senja bersinar. Karena sifatnya yang bersinar, solid, empuk, fleksibel dan elastis maka emas 24 karat dalam bentuk molekul bisa digunakan untuk cuci muka atau golden facial sebab mudah terserap kulit wajah. Teknis golden facial inipun tidak berbeda dengan cuci muka biasa yakni cleansing, toner, serum, gel, dan scrub. Bedanya, dalam setiap proses tersebut semuanya mengandung emas. Ketika seluruh rangkain facial ini selesai barulah terlihat sisa kilatan di wajah. </p>
<p>Pada dasarnya emas ( dan sutra ) bagi wanita adalah halal seperti dalam hadits: </p>
<p>	إِنَّ هَذَيْنِ حَرَامٌ عَلَى ذُكُوْرِ أُمَّتِيْ حِلٌّ ِلإِنَاثِهَا<br />
“Sesungguhnya keduanya ini ( emas dan sutera ) haram bagi para lelaki umatku dan halal bagi para wanita mereka “ ( HR Turmudzi dari Abu Musa al Asy’ari ) </p>
<p>Kendati halal, bukan berarti para wanita diperbolehkan menggunakan emas seenaknya. Prinsip tidak boleh ada berlebihan ( Israf ) dan berbangga ( Khuyala’ ) dalam segala hal tetap harus dipegang seperti disebutkan dalam sabda Rasulullah shallallahu alaihi wasallam: </p>
<p>	&#8230;لاَ تَشْرَبُوْا فِى آنِيَةِ الذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ وَلاَ تَأْكُلُوْا فِى صِحَافِهَا<br />
“&#8230;jangan kalian minum dalam bejana emas dan perak. Jangan makan di piring ( terbuat dari ) keduanya&#8230;” ( HR Bukhari Muslim dari Hudzaifah bin al Yaman )</p>
<p>Larangan di sini jelas tanpa perbedaan bagi lelaki dan perempuan serta dalam semua jenis pemakaian. Sementara itu para ulama menangkap ilat di balik larangan pemakaian tersebut yaitu adanya Israf dan berbangga &#8211; bangga. Jika Israf  saja dilarang maka dalam kasus Golden Facial yang terjadi justru lebih parah daripada Israf, yakni adanya Tabdziir, menyia &#8211; nyiakan harta yang disebut oleh Allah “ Sesungguhnya orang &#8211; orang yang berbuat tabdzir adalah saudara &#8211; saudara setan “ QS al Isra’ : 27.</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/alwasath.wordpress.com/9/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/alwasath.wordpress.com/9/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/alwasath.wordpress.com/9/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/alwasath.wordpress.com/9/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/alwasath.wordpress.com/9/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/alwasath.wordpress.com/9/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/alwasath.wordpress.com/9/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/alwasath.wordpress.com/9/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/alwasath.wordpress.com/9/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/alwasath.wordpress.com/9/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/alwasath.wordpress.com/9/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/alwasath.wordpress.com/9/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/alwasath.wordpress.com/9/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/alwasath.wordpress.com/9/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/alwasath.wordpress.com/9/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/alwasath.wordpress.com/9/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=alwasath.wordpress.com&amp;blog=3433643&amp;post=9&amp;subd=alwasath&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://alwasath.wordpress.com/2008/04/30/trend-golden-facial/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/b2e29bd9c4230c4876b996a195958bdf?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Abu Faim</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Harta Warisan</title>
		<link>http://alwasath.wordpress.com/2008/04/17/harta-warisan/</link>
		<comments>http://alwasath.wordpress.com/2008/04/17/harta-warisan/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 17 Apr 2008 02:34:58 +0000</pubDate>
		<dc:creator>warungbaca</dc:creator>
				<category><![CDATA[Fasalu]]></category>
		<category><![CDATA[Warisan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://alwasath.wordpress.com/?p=8</guid>
		<description><![CDATA[Pertanyaan a. Apakah seseorang yang meninggal dengan meninggalkan harta warisan, kemudian harta itu tidak dibagi dengan adil sesuai hukum waris Islam, kelak di akhirat masih diadili karena tidak adil? b. Bagaimana cara pembagian harta waris jika berupa tanah?apakah harus dikurs dahulu dengan uang, mengingat harga tanah di surabaya dan di daerah tidak sama? Jika demikian, [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=alwasath.wordpress.com&amp;blog=3433643&amp;post=8&amp;subd=alwasath&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal"><em><span style="font-size:11pt;">Pertanyaan</span></em></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;">a. <span> </span>Apakah seseorang yang meninggal dengan meninggalkan harta warisan, kemudian harta itu tidak dibagi dengan adil sesuai hukum waris Islam, kelak di akhirat masih diadili karena tidak adil?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;">b. Bagaimana cara pembagian<span> </span>harta waris jika berupa tanah?apakah harus dikurs dahulu dengan uang, mengingat harga tanah di surabaya dan di daerah tidak sama? Jika demikian, berapa bagian untuk anak laki – laki dan berapa bagian untuk anak perempuan? Ada yang menyatakan jika dikurs dengan uang<span> </span>maka pasti terjadi piutang antar sesama saudara. Benarkah ini?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="font-size:11pt;">Imiana M,</span></strong><span style="font-size:11pt;"><span> </span>Surabaya</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><em><span style="font-size:11pt;"> </span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><em><span style="font-size:11pt;">Jawaban</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;">a.Setelah dipastikan meninggal dunia, maka ada lima hak yang harus ditunaikan secara berurut <em>(Murottabah)</em><span> </span>yang berhubungan dengan harta peninggalan <em>(Tirkah)</em> Mayyit; 1) Mengeluarkan hak yang berhubungan dengan harta secara langsung seperti Zakat, Jinayat dan Gadai, 2) Biaya lumrah pengurusan jenazah, 3) Hutang – hutang kepada Alloh seperti Haji bagi yang mampu atau hutang kepada sesama manusia, 4) Wasiat kepada selain ahli waris dalam batas tidak lebih dari sepertiga <em>(Tsuluts)</em> harta tinggalan, dan 5) warisan secara adil.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;">Kelima hal tersebut menjadi kewajiban ahli waris untuk menunaikannya. Jadi mereka tidak diperbolehkan langsung begitu saja membagi harta peninggalan sebelum menjalani proses demi proses. Atau sudah menjalankan proses tersebut secara berurutan tetapi pada endingnya yaitu pada masalah pembagian harta warisan mereka berbuat tidak adil maka sungguh di sini Mayyit sama sekali tidak mendapatkan dosa. Ingatlah firman Alloh, <em>“&#8230;seseorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain&#8230;”</em><strong>QS al An’aam: 164</strong>.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;"> b. Dalam masalah Warisan, Islam memiliki satu standar baku bahwa Bagian laki – laki adalah dua kali lipat bagian perempuan, firman Alloh SWT:<span> </span><em>“Alloh mewasiatkan bagi kalian<span> </span>(tentang pembagian pusaka untuk) anak – anak kalian Yaitu: Bagian seorang anak laki – laki sama dengan bagian dua anak perempuan&#8230;”</em><strong>QS an Nisa’: 11</strong>. artinya wasiat Alloh adalah penekanan agar harta warisan dibagi seadil – adilnya sesuai dengan ketentuan Syara’. Para ahli waris harus menerima hak mereka sesuai dengan bagian yang ditentukan oleh Syara’ untuk mereka. Berangkat dari sinilah kemudian studi ilmu Faro’idh memunculkan satu teori pasti yang berbunyi, “ <em>Tirkah</em> dibagi asal masalah kemudian dikalikan <em>Siham</em> ” . Dibagi <span> </span>dan dikalikan tentunya sudah ada kejelasan berapa jumlah total <em>Tirkah</em> yang itu berarti jika dari <em>Tirkah</em> ada yang berupa benda atau tanah maka harus diperkirakan berapa harganya. Tentu hal ini sesuai dengan kesepakatan para ahli waris. []</span></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/alwasath.wordpress.com/8/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/alwasath.wordpress.com/8/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/alwasath.wordpress.com/8/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/alwasath.wordpress.com/8/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/alwasath.wordpress.com/8/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/alwasath.wordpress.com/8/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/alwasath.wordpress.com/8/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/alwasath.wordpress.com/8/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/alwasath.wordpress.com/8/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/alwasath.wordpress.com/8/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/alwasath.wordpress.com/8/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/alwasath.wordpress.com/8/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/alwasath.wordpress.com/8/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/alwasath.wordpress.com/8/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/alwasath.wordpress.com/8/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/alwasath.wordpress.com/8/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=alwasath.wordpress.com&amp;blog=3433643&amp;post=8&amp;subd=alwasath&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://alwasath.wordpress.com/2008/04/17/harta-warisan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/b2e29bd9c4230c4876b996a195958bdf?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Abu Faim</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>10 Karakter Sahabat Dalam Alqur’an</title>
		<link>http://alwasath.wordpress.com/2008/04/17/10-karakter-sahabat-dalam-alqur%e2%80%99an/</link>
		<comments>http://alwasath.wordpress.com/2008/04/17/10-karakter-sahabat-dalam-alqur%e2%80%99an/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 17 Apr 2008 02:23:37 +0000</pubDate>
		<dc:creator>warungbaca</dc:creator>
				<category><![CDATA[Siroh]]></category>
		<category><![CDATA[Sahabat]]></category>
		<category><![CDATA[Sifat Sahabat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://alwasath.wordpress.com/?p=7</guid>
		<description><![CDATA[Ketika Rasulullah Saw. Ditetapkan sebagai Khaatamun Nabiyin (penutup para Nabi), Allah Swt. Telah menjamin kemurnian agama ini dari berbagai tabdil (pergantian) dan tahrif (perubahan) hingga hari kiamat. Untuk itu, disiapkanlah manusia-manusia pilihan, manusia-manusia terbaik. Mereka adalah sahabat-sahabat Rasulullah Saw.. Oleh karena perubahan itu berpangkal dari hawa nafsu, maka mereka pun diproduksi sedemikian rupa untuk mengemban [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=alwasath.wordpress.com&amp;blog=3433643&amp;post=7&amp;subd=alwasath&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal">Ketika Rasulullah Saw. Ditetapkan sebagai Khaatamun Nabiyin (penutup para Nabi), Allah Swt. Telah menjamin kemurnian agama ini dari berbagai tabdil (pergantian) dan tahrif (perubahan) hingga hari kiamat. Untuk itu, disiapkanlah manusia-manusia pilihan, manusia-manusia terbaik. Mereka adalah sahabat-sahabat Rasulullah Saw.. Oleh karena perubahan itu berpangkal dari hawa nafsu, maka mereka pun diproduksi sedemikian rupa untuk mengemban tugas menegakkan agama dan menjaganya bagi para penghuni alam.</p>
<p class="MsoNormal">Dilihat dari namanya, sahabat bentuk jama’nya menjadi ashhaab berasal dari kata “shuhbah”, yakni berteman. Mereka diberi gelar sahabat karena mereka selalu menemani Rasulullah di kala bagaimanapun kondisi beliau. Di kala senang dan susah, di kala yakin dan bimbang. Mereka selalu “kintil” dengan Rasulullah, dalam arti selalu memperhatikan kepentingan Rasulullah dan segala aktifitasnya. Mereka sami’na wa atho’na pada apa yang didawuhkan Tuhannya maupun junjungannya (Rasulullah Saw.). Secara maksimalh mereka kerahkan kekuatan untuk bersabar dan bersyukur sebagai dua ini ajaran agama.</p>
<p class="MsoNormal">Mereka bersabar tidak hanya dalam menahan gejolak nafsu, namun mereka juga bersabar dalam menjalankan keta’atan. Titah apapun<span> </span>mereka laksanakan dengan ikhlas dan penuh tanggung jawab, kecuali bila titah itu memang berada di luar kemampuan mereka. Bisa dibayangkan betapa sabarnya mereka dalam menerima titah jihad, bahwa muslim satu tidak boleh mundur selama musuh tidak lebih dari 10 orang. Padahal saat ini jihad lawan 2 musuh saja terasa berat sekali (Q.S. al-Anfaal: 65-66). Betapa sabarnya mereka saat qiyamullail (shalat malam) diwajibkan atas mereka selama satu tahun. Dan ketika setahun berlalu mereka tetap kontinu menjalankannya walaupun hokum qiyamullail telah berganti sunnah. Maka Madinah sebagai markas sahabat dikeal sebagai tempat singa di siang hari dan tempatnya para pendeta di malam harinya. Singa, karena mereka begitu lincah, giat, dan berani dalam aktifitas perjuangan, dengan harta maupun jiwanya. Mereka disebut pendeta, karena mereka melakukan shalat malam beserta munajat-munajatnya dengan penuh khusyu; dan tadlarru’. Suara tangis mereka menyusup sela-sela angkasa Madinah laksana suara kumbang. Alangkah agungnya mereka. Dikatakan, “Pendeta di malam hari, dan menjadi singa di siang harinya.”</p>
<p class="MsoNormal">Ketika turun ayat, “<em>Dan jika kamu melahirkan apa yang ada di dalam hatimu atau kamu menyembunyikannya, niscaya Allah akan menghisabnya.” </em>(Q.S. al-Baqarah: 284) mereka mengakui keberatannya. Mereka tidak mampu menjalankan titah itu. Tetapi ketidakmampuannya tidak menjadikan mereka putus asa, atau menjauhkan diri dari Nabi, mereka malah mendatangi junjungannya itu untuk kemudian minta saran dan petunjuk. “Ya Rasulullah, telah dibebankan kepada kami berbagai amalan; shalat, puasa, jihad dan shadaqah, kami telah sanggupi. Tetapi titah ayat ini ya Rasul tidak mungkin kami sanggup. “Maka Rasulullah menegurnya, “Apakah kalian menghendaki ucapan sebagaimana diucapkan oleh Yahudi dan Nasrani, “Kami mendengar tetapi kami tidak mau mengerjakan?”. Ucapkanlah sami’na wa atho’na dan mohonlah ampunan kepada Tuhanmu.” Teguran itu menyadarkan mereka untuk kembali pada posisi sami’na wa atho’na walaupun dalam puncak kondisi ketidakmampuan.</p>
<p class="MsoNormal">Selang beberapa lama setelah itu ketika lisan-lisan mereka telah tunduk dengan titah ayat itu, Allah Ta’ala lalu menurunkan ayat, “Rasul telah beriman kepada apa yang telah diturunkan kepadanya, demikian pula orang-orang yang beriman.Semuanya beriman kepada Allah, malaikat-malaikatNya, dan rasul-rasulNya.” Q.S. al-Baqarah: 285.</p>
<p class="MsoNormal">Setelah diketahui kesabaran mereka menerima titah, seberat apapun titah itu. Allah Ta’ala kemudian memberikan dispensasi (rukhshoh) dengan menghapus (menasakh) hokum kedua ayat di atas melalu firmannya, “Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Ia mendapat pahala dari kebajikan yang diusahakannya dan ia mendapat siksa dari kejahatan yang dikerjakannya.” Dispensasi untuk mereka tidak hanya itu saja, berkat ketabahannya beberapa permintaan<span> </span>mereka juga dikabulkanNya, sebagaimana dalam doa, “Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hokum kami jika kami lupa atau kami tersalah. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang yang sebelum kami. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tak sanggup kami memikulnya. Beri maaflah kami, ampunilah kami, dan rahmatilah kami. Engkau penolong kami, maka tolonglah kami terhadap kaum yang kafir.” Q.S. al-Baqarah: 286.</p>
<p class="MsoNormal">Ketika turun ayat, “Orang-orang yang beriman dan tidak memcampuradukkan iman mereka dengan dhulm (kedhaliman), mereka itulah orang-orang yang mendapat keamanan dan mereka itu adalah orang-orang yang mendapat petunjuk.” Sahabat mengadukan ihwalnya kepada junjungannya, takut-takut jikalau mereka tersangkut dalam khitob “dhulm” ayat itu. “Siapa di antara kami yang tidak pernah melakukan dhulm, ya Rasulullah?” Mereka memahami bahwa dhulm adalah meletakkan sesuatu tidak pada tempatnya atau mengambil sesuatu tanpa izin yang punya. Padahal disebut dalam ayat, orang yang melakukan dhulm tidak akan mendapatkan keamanan serta tidak termasuk orang-orang yang mendapatkan petunjuk. Melihat keresahan sahabat, Rasulullah kemudian menjelaskan, “Dhulm buka seperti yang kalian maksudkan. Dhulm dalam ayat itu adalah kata lain dari perbuatan syirik. Perhatikanlah perkataan Luqman al Hakim pada putranya, “Sesungguhnya Syirik adalah dhulm yang agung” H.R. al-Bukhori, lihat tafsir Ibnu Katsir, II, 187.</p>
<p class="MsoNormal">Ketika turun ayat, “Wain minkum illa waariduhaa (Dan tidak seorang pun dari padamu, melainkan mendatangi neraka itu”, secara spontan mereka menangis sekeras-kerasnya. Betapa tidak ayat itu telah mewajibkan setiap orang, termasuk mereka memasuki neraka. Lantas Rasulullah menetramkan dengan kelanjutan ayat, “Kemudian kami akan menyelamatkan orang-orang yang bertakwa.” Q.S. Maryam: 71-72. Tafsir Ibnu Katsir, III, 165. Anehnya ketika kita membaca ayat itu, tidak terlintas apapun di dalam hati. Itulah salah satu bedanya kita dengan sahabat.</p>
<p class="MsoNormal">Ihwal tersebut di atas mengindikasikan bahwa sahabat-sahabat itu identik dengan karakter mujaahidin (pejuang), auliyaa’ (kekasih Allah) dan du’aat (pengemban dakwah) sesuai dengan keberadaan mereka yang senantiasa berjuang, mendekatkan diri pada Allah dan mengemban dakwah agama Islam. Gelar sahabat mengecualikan manusia yang hidup pada zaman Nabi tetapi tidak mau berjuang, tidak mendekatkan diri pada Allah, dan tidak mengemban dakwah agamanya.</p>
<p class="MsoNormal">Ketika Rasulullah Saw. Wafat, terlihat kegigihan mereka dalam mempertahankan agama ini. Mereka relakan nyawanya untuk menumpas nabi-nabi palsu (mutanabbi) berikut para pendukungnya. Mereka menumpas habis gerakkan maker yang dilakukan oleh orang-orang yang tidak mau mengeluarkan zakat. Dari mereka keluar ratusan syuhada saat peperangan yang terpusat di Yamamah itu.</p>
<p class="MsoNormal">Keagungan yang demikian itu tidak terlepas dari tarbiyah yang dilakukan oleh Rasulullah Saw. Bagaimana mereka itu tidak agung, gurunya saja Rasulullah Saw. sendiri.</p>
<p class="MsoNormal">Masa para sahabat habis hingga tahun 100 Hijriyah bersamaan dengan wafatnya sahabat Abu Thufail Amir bin Watsilah (wafat di Makkah tahun 100 Hijriyah). Imam Muslim bin Hajjaj mengakui bahwa beliau adalah sahabat yang paling akhir wafatnya, pendapat itu didukung pula oleh Imam Ibnussholah. Dalam hal ini Ahli Ilmu menggubah baik syi’ir sebagai berikut:</p>
<p class="MsoNormal"><em>Paling akhirnya sahabat yang meninggal adalah Abu Thufail Amir bin Watsilah</em>.</p>
<p class="MsoNormal">Lihat al-Manhal al-Lathif, 194.[]</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/alwasath.wordpress.com/7/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/alwasath.wordpress.com/7/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/alwasath.wordpress.com/7/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/alwasath.wordpress.com/7/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/alwasath.wordpress.com/7/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/alwasath.wordpress.com/7/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/alwasath.wordpress.com/7/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/alwasath.wordpress.com/7/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/alwasath.wordpress.com/7/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/alwasath.wordpress.com/7/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/alwasath.wordpress.com/7/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/alwasath.wordpress.com/7/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/alwasath.wordpress.com/7/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/alwasath.wordpress.com/7/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/alwasath.wordpress.com/7/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/alwasath.wordpress.com/7/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=alwasath.wordpress.com&amp;blog=3433643&amp;post=7&amp;subd=alwasath&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://alwasath.wordpress.com/2008/04/17/10-karakter-sahabat-dalam-alqur%e2%80%99an/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/b2e29bd9c4230c4876b996a195958bdf?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Abu Faim</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Sembilan Kiat Menjadi Suami Teladan</title>
		<link>http://alwasath.wordpress.com/2008/04/10/sembilan-kiat-menjadi-suami-teladan/</link>
		<comments>http://alwasath.wordpress.com/2008/04/10/sembilan-kiat-menjadi-suami-teladan/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 10 Apr 2008 08:52:05 +0000</pubDate>
		<dc:creator>warungbaca</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bina Usroh Sakinah]]></category>
		<category><![CDATA[Kiat]]></category>
		<category><![CDATA[Suami]]></category>
		<category><![CDATA[Suami Teladan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://alwasath.wordpress.com/?p=6</guid>
		<description><![CDATA[Suami adalah pemimpin wanita, yang dalam bahasa Al-Qur&#8217;an disebut ”qowwâmûna ’alan nisâ&#8216;.” Qowwâm merupakan jamak taksir dari qô&#8217;im yang berarti orang yang memiliki tanggung jawab yang banyak. Berkaitan dengan itu, seorang suami hendaknya berusaha untuk menjadi pemimpin yang baik dan menjadi suami teladan bagi para isterinya. Di bawah ini merupakan resep untuk menjadi suami teladan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=alwasath.wordpress.com&amp;blog=3433643&amp;post=6&amp;subd=alwasath&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="text-indent:0.5in;"><span> Suami adalah pemimpin wanita, yang dalam bahasa Al-Qur&#8217;an disebut ”<em>qowwâmûna ’alan nisâ</em>&#8216;.” <em>Qowwâm</em> merupakan jamak taksir dari <em>qô&#8217;im</em> yang berarti orang yang memiliki tanggung jawab yang banyak. Berkaitan dengan itu, seorang suami hendaknya berusaha untuk menjadi pemimpin yang baik dan menjadi suami teladan bagi para isterinya. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:0.5in;"><span>Di bawah ini merupakan resep untuk menjadi suami teladan (<em>az-zaujul mitsâli</em>).</span></p>
<p class="MsoNormal"><em><span>Pertama</span></em><span>, suami harus jujur, terus terang, dan bersikap terbuka. Sikap terbuka ini hendaknya dimulai sejak dia meminang calon istrinya. Saat meminang, calon suami tidak perlu menutupi kelebihan dan kekurangannya, misalnya dengan menyembunyikan penyakit tertentu yang dideritanya. Sikap ini menunjukkan kejujuran. Hal ini penting untuk menghindari kekecewaan di kemudian hari. Sifat jujur akan dibawa dalam kehidupan selanjutnya dan merupakan pangkal kebahagian.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:0.5in;"><span>Rasululah Saw. bersabda, <em>&#8220;Apabila salah seorang di antara kami meminang seorang perempuan, sedangkan dia menyemir rambutnya dengan semir hitam, maka hendaknya dia memberi tahu pada perempuan yang dipinangnya bahwa ia menyemir rambutnya dengan semir hitam.&#8221;</em></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:0.5in;"><span>Hadits ini menunjukkan bahwa masalah sekecil apapun kita harus jujur pada calon isteri agar jangan sampai terjadi penipuan terhadap dirinya yang akhirnya akan menjadi ganjalan dalam kehidupan selanjutnya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:0.5in;"><em>Kedua</em>, suami harus lemah lembut dan berbuat baik dalam memperlakukan isteri. Ukuran lemah lembut adalah relatif untuk setiap orang, bergantung pada sifat, pembawaan, gaya bahasa yang berbeda pada setiap daerah dan bangsa. Sebagian orang Jawa biasa memanggil isterinya dengan sebutan &#8220;sayang, dik, umi, mama&#8221; dan sebagainya. Begitu juga isteri terhadap suami biasa memanggil &#8220;mas, abi, abah, papa&#8221; dan lain-lain. Berbeda dengan orang jawa, orang Arab biasanya memanggil langsung namanya, baik suami atau isteri. <span>Di samping itu, para suami harus memuliakan isterinya, jangan meremehkannya. Sebab, seorang isteri telah melakukan hal-hal yang sukar dilakukan oleh suami, apalagi ketika sudah memiliki anak.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:0.5in;"><span>Dalam perjodohan antara laki-laki dan wanita, ada satu titik yang harus dikejar, yaitu masuklah kamu ke surga bersama isteri-isterimu. Jika suatu saat seorang suami mendapati hal-hal yang tidak disenangi pada isterinya atau sebaliknya, maka hendaklah ia kembali pada konsep Islam. &#8220;Jika kamu tidak senang pada sesuatu hal, maka di sana boleh jadi ada sesuatu yang baik bagi kamu.&#8221; Jadi, kalau ada akhlak sang isteri yang tidak disenanginya atau sebaliknya, maka sesungguhnya yang disenanginya jauh lebih banyak daripada yang tidak disenanginya. Sesungguhnya Allah dalam menjodohkan antara laki-laki dan wanita sudah pasti dengan banyak kecocokan yang harus dijaga bersama dengan mengikuti aturan Allah dan Rasul-Nya. Kalau ada sesuatu hal yang menjengkelkan, maka hal itu harus disikapi sebagai ujian. Seharusnya suami atau istri harus menyikapi hal ini dengan bersikap sabar dan tawakkal.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:0.5in;"><span>Allah telah banyak mengibaratkan laki-laki dan perempuan sebagai pakaian. Gambaran tentang pakaian di sini adalah bahwa pakaian itu selalu kita pakai, yang harus dipelihara dengan sebaik-baiknya. Kalau pakaian sudah tampak kotor, maka segeralah dicuci lalu diseterika sehingga kelihatan bagus kembali. Sekalipun pakaian sudah berumur lama, kalau kita merawatnya, maka akan kelihatan seperti baru. Sebaliknya, kalau kita tidak merawat pakaian tersebut dengan baik, maka pakaian itu akan lusuh, cepat rusak, warnanya cepat luntur, sehingga kita akan merasa enggan memakainya lagi.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Dengan demikian, suami isteri harus saling memelihara, sehingga setiap penampilannya akan selalu menyenangkan. Jangan sampai kita mempunyai perasaan tidak memerlukan pakaian lagi, sehingga baru beberapa hari dipakai sudah dibuang karena bosan, yang selanjutnya mempunyai kebiasaan kawin cerai berkali-kali. Rasulullah Saw. bersabda, &#8220;Allah melaknat laki-laki dan perempuan yang tukang mencicipi.&#8221;</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:0.5in;"><em><span>Ketiga</span></em><span>, suami harus menyenangkan isteri. Jangan terlalu tegang, sesekali harus diselingi guyonan, cubitan, termasuk juga bahasa-bahasa guyonan yang bisa menghilangkan ketegangan. Rasulullah Saw. bersabda, &#8220;Ada hal-hal yang sepertinya tidak ada faedahnya, tetapi cepat mendapat pahala, yaitu <em>muda&#8217;abatur rojul zaujatahu</em> (suami yang yang mengajak istri bermain dalam berbahasa atau dalam perbuatan).</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:0.5in;"><em><span>Keempat</span></em><span>, jika suami mencemburui isteri hendaknya yang wajar-wajar saja. Bisa jadi karena terlalu cinta pada isteri sehingga suami mempunyai rasa cemburu pada isteri secara berlebihan yang tidak berdasar. Hal ini termasuk perbuatan tercela. Kecemburuan yang tidak disertai dengan data yang obyektif jelas dapat memutuskan tali percintaan. Rasulullah Saw. bersabda, &#8220;Di antara cemburu itu ada yang dibenci Allah yaitu kecemburuan pada isterinya tanpa hal-hal yang mencurigakan.&#8221;</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:0.5in;"><em><span>Kelima</span></em><span>, suami harus santun dalam berbicara dengan isteri. </span>Berbicara dengan isteri harus dengan <em>uslub</em> yang halus dan terdidik, jangan sampai menyakitkan hati. Kalimat yang bagus akan berpengaruh dalam jiwa dan perasaan hati. Kalau kebetulan suami mempunyai gaya bicara yang kasar, hendaknya hal itu diberitahukan kepada isterinya. Yakinkan bahwa hati suami tidak sekasar bicaranya.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:0.5in;"><em>Keenam</em>, suami memberi nafkah pada isteri, yang sedang-sedang saja, tidak terlalu boros dan tidak terlalu kikir. Menurut fiqih, cara terbaik dalam menafkahi istri adalah <em>yaumiyah</em> (harian). Hal ini berkaitan dengan kemungkinan terjadi <em>nusyuz</em> (pembangkangan seorang isteri). <span>Jika suatu hari isteri berbuat <em>nusyuz</em>, maka isteri tidak berhak mendapatkan <em>nafaqoh</em> pada hari itu. </span>Dalam realitasnya, cara memberi nafkah itu ada yang <em>usbu&#8217;iyah</em> (mingguan), <em>syahriyah</em> (bulanan). Berkaitan dengan cara penafkahan ini hendaklah dipilih mana yang menjadi kelegaannya. Yang jelas, suami berkewajiban menafkahi istrinya.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:0.5in;"><em>Ketujuh</em>, suami hendaknya berpenampilan bagus di hadapan isterinya, sehingga tidak kelihatan membosankan. Hal itu berarti segalanya harus tertata rapi, tidak <em>morat-marit</em>. Isteri yang mengerti kebersihan akan membawa kesenangan tersendiri, maka tidak melihat isteri pada suami kecuali keindahan, dan tidak mencium kecuali bau yang enak. Rasulullah Saw. bersabda, &#8220;Cucilah baju-bajumu, dan potonglah rambutmu, bersiwaklah, berhiaslah, dan berbersihlah. Sesungguhnya Bani Israil tidak berbuat demikian, maka berzinalah isteri-isteri mereka.&#8221;</p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:0.5in;"><em>Kedepalapan</em>, suami hendaknya menjaga rahasia kehidupan dalam rumah tangga. Jadi, masalah rumah tangga jangan keluar sembarangan pada orang lain. <span>Yang paling tidak benar adalah menceritakan saat &#8220;kumpul&#8221; dengan isterinya kepada temannya. Rasulullah Saw. bersabda, &#8220;Termasuk orang yang paling buruk kedudukannya di Hari Kiamat yaitu seseorang yang mendatangi isterinya di malam hari kemudian menceritakannya.&#8221;</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:0.5in;"><em><span>Kesembilan</span></em><span>, suami harus menunjukkan sikap sebagai seorang laki-laki. Rasulullah Saw. bersabda, &#8220;Mudah-mudahn Allah melaknat laki-laki yang memakai pakaian dan bertingkah laku seperti perempuan.&#8221; Misalnya, harus menafkahi, tidak malas bekerja. Di samping itu, suami jangan keterlaluan dalam menampakkan kelaki-lakiannya, seperti menerapkan sistem militer dalam rumah tangga.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:0.5in;"><span>Jadi, letakkan suatu itu pada tempatnya. Hikmat mengatakan, &#8220;Kamu jangan terlalu keras, maka mudah dipatahkan dan kamu jangan terlalu lunak, maka mudah diperas. Sikap yang terlalu lunak akan menghilangkan <em>haibah</em> (kewibawaan). Bercanda (guyon) yang berlebihan (di semua tempat) juga bisa menghilangkan <em>haibah</em>. Rasulullah Saw. juga pernah guyon. Ada seseorang bernama Nu&#8217;aim ditutup matanya oleh Rasulullah Saw. dari belakang sambil berkata, &#8220;Siapa yang mau beli budak?&#8221; Kata Nu’aim, &#8220;Saya bukan budak.&#8221; Kemudian Nu&#8217;aim menoleh, &#8220;Ya Rasulullah, siapa yang membeli saya?&#8221; Jawab Rasulullah, &#8220;Kamu dibeli oleh Allah (masuk surga).&#8221; Jadi, seseorang harus tahu, kapan serius dan kapan guyon. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:0.5in;"><span>Itulah beberapa sifat yang dipahami dan dipraktikkan oleh para suami sehingga ia akan menjadi suami teladan. InsyaAllah.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span><span> </span><em>Wallôhu a’lam</em>.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:left;">(Dicuplik dari majalah al-Mu&#8217;tashim, edisi Maret 2008)</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><span> ***</span></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/alwasath.wordpress.com/6/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/alwasath.wordpress.com/6/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/alwasath.wordpress.com/6/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/alwasath.wordpress.com/6/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/alwasath.wordpress.com/6/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/alwasath.wordpress.com/6/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/alwasath.wordpress.com/6/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/alwasath.wordpress.com/6/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/alwasath.wordpress.com/6/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/alwasath.wordpress.com/6/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/alwasath.wordpress.com/6/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/alwasath.wordpress.com/6/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/alwasath.wordpress.com/6/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/alwasath.wordpress.com/6/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/alwasath.wordpress.com/6/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/alwasath.wordpress.com/6/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=alwasath.wordpress.com&amp;blog=3433643&amp;post=6&amp;subd=alwasath&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://alwasath.wordpress.com/2008/04/10/sembilan-kiat-menjadi-suami-teladan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/b2e29bd9c4230c4876b996a195958bdf?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Abu Faim</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
